PADANG, (GemaMedianet.com) | Prestasi keolahragaan gemilang tidak lahir dalam sekejap mata. Di balik setiap keping medali dan sorak kemenangan, terdapat proses panjang yang melibatkan keringat atlet selama bertahun-tahun, kesabaran pelatih, topangan keluarga, serta pondasi paling krusial: kompetisi yang berkelanjutan dan ekosistem pembinaan terarah.
Persoalan fundamental inilah yang menjadi sorotan tajam Anggota DPRD Sumatera Barat dari Fraksi Partai Gerindra, Mario Syah Johan, ketika mengikuti pembahasan pasal demi pasal Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) tentang Olahraga di DPRD Sumbar, Kamis (29/10/2026).
Berbekal pengalaman delapan tahun berkecimpung langsung mengelola dunia olahraga, Mario menekankan bahwa regulasi yang sedang dirumuskan tidak boleh berhenti sekadar menjadi produk hukum administratif di atas kertas.
Perda Olahraga wajib menjadi jangkar nyata bagi penguatan pembinaan atlet sejak dini, kepastian kalender kompetisi berkala, serta lonjakan prestasi kontingen Sumatera Barat di kancah nasional.
“Pekan Olahraga Kabupaten (Porkab) dan Pekan Olahraga Kota (Porkot) harus dilaksanakan dua tahun sekali di tahun ganjil di bawah tanggung jawab KONI kabupaten dan kota. Porprov pun wajib dilaksanakan dua tahun sekali di tahun genap,” tegas Sekretaris Komisi V DPRD Sumbar tersebut di hadapan tim ahli, pengurus KONI, akademisi, dan praktisi olahraga.
Mario mengingatkan agar penyelenggaraan kejuaraan daerah tidak kembali mengalami penundaan panjang seperti masa lalu, yang tidak hanya mengecewakan mental atlet, tetapi juga merusak grafik prestasi olahraga Sumbar secara makro.
Kompetisi Rutin dan Kepastian Dukungan Anggaran APBD
Bagi Mario, kejuaraan yang terjadwal bukan sekadar kalender seremonial, melainkan urat nadi pembinaan atlet. Tanpa kompetisi teratur, atlet kehilangan ruang uji tanding, pelatih buntu mengevaluasi latihan, dan daerah kesulitan melahirkan bibit unggul mandiri tanpa harus membajak atlet luar.
Ia memetakan jenjang pembinaan mulai dari tingkat kecamatan sebagai penjaringan awal, menuju Porkab/Porkot, Porprov, hingga target puncak di Pekan Garuda/PON dan arena internasional.
Guna memastikan rantai pembinaan tersebut tidak terputus di tengah jalan akibat ketiadaan biaya, Mario mendorong adanya kepastian dukungan penganggaran yang memadai.
Merespons usulan Ketua KONI Sumbar agar alokasi anggaran olahraga mencapai dua persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), Mario menilai skema pembiayaan tersebut sangat rasional untuk membiayai pemusatan latihan (Training Centre/TC) jangka panjang serta pengiriman atlet berlatih silang ke luar daerah.
“Dengan kepastian regulasi, kebutuhan keolahragaan dapat diperhitungkan sejak awal dalam penyusunan anggaran daerah sesuai kemampuan keuangan. Atlet butuh TC di luar daerah agar mental, teknik, dan pengalaman mereka semakin matang,” ungkap Mario.
Olahraga Sebagai Investasi Sosial: Dari Biliar hingga Ring Tinju
Di balik pertarungan draf regulasi, Mario membawa pengalaman empiris ketika memimpin KONI Solok Selatan (2013–2019) tatkala membuktikan bahwa olahraga mampu menjadi instrumen penyelamatan sosial bagi anak-anak muda berisiko tinggi.
Ia mengenang kisah seorang pemuda bernama Yoga yang gemar bermain biliar dalam pusaran taruhan uang. Melalui intervensi pembinaan terstruktur, arena biliar disulap menjadi tempat kejuaraan resmi.
Yoga berhasil keluar sebagai juara pertama tingkat kabupaten dan melaju ke tingkat provinsi dengan membawa pulang hadiah uang tunai halal mencapai Rp10 juta, jauh melampaui taruhan kecil masa lalunya.
Demikian pula pengalaman Mario merangkul para remaja yang kerap terlibat perkelahian jalanan, mengarahkan energi mereka ke sasana tinju, wushu, kempo, hingga Muaythai.
Disiplin keras di bawah bimbingan pelatih sukses mengantarkan sebagian dari mereka meniti karier gemilang sebagai abdi negara di institusi TNI dan Polri, seperti Robi dari cabang olahraga Muaythai.
“Makanya saya ingin sekali Perda Olahraga yang tengah dibahas memberi kemanfaatan maksimal. Bukan hanya mengejar tenggat waktu dan kuantitas aturan, melainkan menghadirkan kualitas dan dampak nyata bagi masa depan generasi muda Sumbar,” pungkas Mario Syah Johan. (skc/gmn)
#Editor: Marzuki RH



"
/>






0 comments:
Post a Comment