✅Hadirkan Tokoh Kunci Masoed Abidin hingga Yulizal Yunus: Tegaskan Eksistensi 'Adaik Salingka Nagari' sebagai Benteng Moral Generasi Muda
PADANG, (GemaMedianet.com) | Di tengah derasnya gempuran arus modernisasi dan transformasi digital yang berpotensi menggerus identitas kultural generasi muda, penguatan terhadap pranata adat di tingkat basis menjadi agenda yang mendesak. Menjawab tantangan sosiologis tersebut, langkah taktis dilakukan untuk merevitalisasi fungsi kepemimpinan ninik mamak agar tetap adaptif sekaligus kokoh menjaga marwah filosofi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK).
Komitmen strategis ini diwujudkan secara konkret melalui agenda Bimbingan Teknis (Bimtek) Peningkatan Kapasitas Pemangku Adat yang mengusung tema besar "Adaik Salingka Nagari, Pusako Salingka Kaum". Kegiatan yang diinisiasi oleh Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat ini difasilitasi langsung melalui dana Pokok Pikiran (Pokir) Anggota DPRD Sumbar dari Fraksi Partai NasDem, Bakri Bakar, S.H., dan berlangsung sukses di Axana Hotel Padang.
Selama tiga hari pelaksanaan, forum ilmiah dan kultural ini bertabur pemikiran bernas karena menghadirkan jajaran narasumber yang kredibel dan berkompeten di bidang adat, budaya, serta sosiologi kemasyarakatan Ranah Minang. Di antaranya budayawan Irwan Malin Basa, Dr. Amril Amir, M.Pd., Dt. Lelo Basa, akademisi Dr. Yulizal Yunus, M.Si., serta ulama kharismatik Drs. H. Masoed Abidin.
Inisiator kegiatan, Bakri Bakar, S.H., yang juga merupakan legislator senior DPRD Sumbar dua periode, menegaskan bahwa pemangku adat saat ini dihadapkan pada kompleksitas problem sosial yang jauh lebih berat dibanding era sebelumnya. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas keilmuan tata kelola adat menjadi sebuah keniscayaan.
"Pemangku adat, khususnya ninik mamak, memiliki peran hukum dan kultural yang sangat strategis sebagai penjaga nilai, norma, dan kearifan lokal Minangkabau. Melalui bimtek ini, kita memperkuat pemahaman serta kapasitas kepemimpinan mereka agar mampu menjawab berbagai tantangan riil, mulai dari sengketa sako-pusako hingga membentengi anak kemenakan dari dampak negatif globalisasi," urai Bakri Bakar secara lugas.
Adat Bukan Cerita Masa Lalu, Melainkan Pedoman Hidup Kontemporer
Politisi Partai NasDem ini membedahkan secara filosofis bahwa tagline 'Adaik Salingka Nagari, Pusako Salingka Kaum' mengunci dua esensi penting pertahanan sosial. Pertama, pentingnya menjaga keutuhan tatanan regulasi adat di tingkat pemerintahan nagari. Kedua, kewajiban memelihara kekayaan material dan non-material kaum sebagai identitas komunal yang wajib diwariskan ke generasi masa depan.
"Kita menolak keras jika adat hanya ditempatkan sebagai cerita masa lalu atau sekadar pelengkap seremonial belaka. Adat harus tetap hidup, membumi, menjadi pedoman konkret dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari, serta mampu beradaptasi dengan lompatan zaman tanpa sedikit pun kehilangan nilai orisinalitasnya," tegas Bakri Bakar.
Guna mencapai target tersebut, ratusan peserta dibekali materi komprehensif yang mencakup penguatan kelembagaan adat, manajemen peran ninik mamak dalam membina pemuda nagari, digitalisasi dokumentasi aset budaya, hingga strategi resolusi konflik sosial lokal.
Sinergi tripartit antara pemerintah, lembaga legislatif, dan pemangku adat diharapkan melahirkan struktur keharmonisan sosial yang kokoh di Sumatera Barat. Bimtek ini sekaligus mengukuhkan bahwa pembangunan fisik daerah harus berjalan linier dengan pembangunan karakter masyarakat yang berbasis kearifan lokal. (mrh/gmn)
#Editor : RS Khadiva









0 comments:
Post a Comment