BUKITTINGGI, (GemaMedianet.com) | Di tengah masifnya gempuran disrupsi digital dan pergeseran nilai-nilai sosial kontemporer, upaya memperkokoh benteng ketahanan keluarga berbasis kearifan lokal terus diintensifkan. Langkah strategis ini diwujudkan melalui pelibatan aktif institusi adat perempuan Minangkabau dalam mengawal tumbuh kembang moralitas generasi muda.
Komitmen tersebut dipertegas oleh Wakil Ketua DPRD Provinsi Sumatera Barat, Nanda Satria, saat tampil sebagai narasumber utama dalam agenda Bimbingan Teknis (Bimtek) Bundo Kanduang yang dipusatkan di salah satu hotel berbintang di Kota Bukittinggi, Minggu (7/6/2026) lalu. Helat ini memfokuskan bahasannya pada penguatan metodologi pendidikan karakter bagi anak dan kamanakan di era modern.
Agenda strategis ini diikuti secara antusias oleh jajaran pengurus dan anggota matriarkat Bundo Kanduang dari berbagai kabupaten dan kota di Sumatera Barat. Tujuan fundamental dari bimtek paruh tahun ini adalah untuk memperbarui serta memperkuat kapasitas fungsional perempuan Minangkabau agar lebih adaptif dan taktis dalam membina generasi muda di tengah perubahan zaman yang semakin dinamis.
Dalam pemaparan materinya, Wakil Ketua DPRD Sumbar, Nanda Satria, menggarisbawahi bahwa Bundo Kanduang memikul posisi teologis dan sosiologis yang sangat strategis. Mereka bertindak sebagai pemegang kunci utama (key player) dalam merawat kemurnian nilai-nilai adat, budaya, serta moralitas, baik dalam mikrokosmos lingkungan keluarga maupun makrokosmos kemasyarakatan.
Garda Terdepan di Tengah Arus Tantangan Global
Menurut Nanda, peran Bundo Kanduang di abad ke-21 ini tidak boleh lagi terjebak sekadar pada urusan seremonial adat atau menjaga tradisi simbolis semata. Lebih dari itu, Bundo Kanduang wajib berdiri di garda terdepan sebagai arsitek moral yang merancang dan membentuk karakter anak kemenakan agar tumbuh menjadi pribadi yang berintegritas dan berakhlak mulia.
Pihaknya menyadari betul bahwa lompatan teknologi dan derasnya arus informasi tanpa sekat saat ini membawa implikasi tantangan psikologis dan sosial yang sangat kompleks bagi generasi Z dan Alpha. Atas dasar itulah, kehadiran kehadiran fisik dan batin Bundo Kanduang sangat dirindukan dalam memberikan pendampingan serta pengawasan melekat kepada anak-anak.
"Di tengah perkembangan teknologi dan arus informasi yang semakin pesat, peran Bundo Kanduang sangat dibutuhkan untuk menanamkan nilai agama, adat, etika, disiplin, serta rasa tanggung jawab kepada anak dan kamanakan sejak usia dini. Fondasi moral yang kuat ini wajib diinisiasi dari lingkungan rumah gadang atau keluarga," tegas Nanda Satria lugas.
Politisi muda yang menakhodai unsur pimpinan parlemen Sumbar ini menilai, indikator kemajuan suatu daerah tidak bisa hanya diukur secara parsial dari aspek pembangunan fisik infrastruktur dan pertumbuhan angka ekonomi semata. Jauh lebih substantif, kualitas sumber daya manusia (SDM) yang berkarakter dan berbudaya merupakan determinan (faktor utama) yang menentukan hitam-putihnya masa depan Ranah Minang.
Oleh sebab itu, fraksi dan pimpinan DPRD Sumbar memposisikan program penguatan peran Bundo Kanduang ini sebagai langkah intervensi kebijakan yang sangat krusial. Langkah ini penting untuk menjaga jati diri masyarakat Minangkabau sekaligus mempersiapkan generasi emas yang mampu bersaing di kancah global tanpa harus mencerabut akar identitas budayanya.
Nanda Satria berharap, pasca-kegiatan ini, kontribusi nyata Bundo Kanduang di seluruh Sumatera Barat semakin bergaung luas dalam mencetak generasi yang unggul, cerdas, berintegritas, serta tetap teguh bersandar pada falsafah abadi: Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK). (mrh/gmn)
#Editor: RS Khadiva









0 comments:
Post a Comment