12 July 2026

Rawat Filosofi Gotong Royong Minangkabau, Festival Sipak Rago Piala Evi Yandri Kembali Ditabuh



PADANG, (GemaMedianet.com) | Upaya membentengi kekayaan tradisi lokal dari ancaman kepunahan di era digitalisasi terus digulirkan secara masif oleh parlemen daerah. Warisan luhur masyarakat Minangkabau yang telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) nasional, Sipak Rago, kembali dilesatikan lewat perhelatan festival bergengsi tingkat Provinsi Sumatera Barat yang berlangsung di Gedung Rohana Kudus, Kota Padang, Sabtu (11/7/2026) kemarin.

Turnamen akbar yang memperebutkan Piala Bergilir Wakil Ketua DPRD Sumbar, Evi Yandri Rajo Budiman, ini diikuti oleh 28 tim tangguh dari kabupaten dan kota di Sumbar. Mengangkat tema besar "Lestarikan Budaya dengan Permainan Anak Nagari Sipak Rago", agenda kebudayaan ini secara resmi dibuka langsung oleh Evi Yandri dengan dihadiri jajaran Forkopimda, tokoh adat, serta instansi terkait.

Penyelenggaraan pada tahun 2026 ini menandai konsistensi pelaksanaan untuk tahun kelima secara formal dengan memanfaatkan dukuangan instrumen Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) melalui skema dana Pokok-Pokok Pikiran (Pokir) Wakil Ketua DPRD Sumbar.

Filosofi Kolaborasi, Bukan Menjatuhkan Lawan

Wakil Ketua DPRD Sumbar, Evi Yandri Rajo Budiman, mengurai bahwa Sipak Rago merupakan akar sejarah dari olahraga sepak takraw modern, namun memuat dimensi nilai filosofis yang bertolak belakang. Jika sepak takraw modern mengedepankan kompetisi frontal untuk menjatuhkan mental lawan di area permainan, Sipak Rago justru murni mengejar harmoni, kolektivitas, dan sinergi antarpemain.

Dalam aturan adatnya, para pemain dituntut bekerja sama secara intim agar bola rotan tetap bertahan di udara selama mungkin tanpa menyentuh tanah. Karakteristik ini mendidik individu untuk selalu memberikan umpan terbaik kepada rekannya, sekalipun ia menerima pasokan bola dalam posisi yang sulit dan tidak ideal.

"Di sini tercermin nilai kekompakan, ketangkasan, gotong royong, dan tidak ada rasa ingin balas dendam. Nilai-nilai luhur dari permainan anak nagari inilah yang menjadi modal sosial penting bagi generasi muda kita hari ini," ujar Evi Yandri secara filosofis.

Tak hanya kaya nilai moral, Sipak Rago menyimpan rekam jejak historis yang heroik. Pada era kolonialisme Belanda, aktivitas ketangkasan ini dimanfaatkan oleh para pemuda Minang sebagai taktik penyamaran guna melatih fisik dan gerakan silat tradisional (silek) secara rahasia demi mengelabui patroli tentara penjajah.

Apresiasi Atas Komitmen Pemajuan Kebudayaan Daerah

Langkah nyata penyelamatan aset kultural ini menuai respons positif dari jajaran Pemerintah Provinsi Sumatera Barat. Kepala Dinas Kebudayaan Sumbar yang diwakili Kepala Museum Adityawarman, Tuti Alawiyah, menegaskan bahwa Sipak Rago merupakan bagian dari proyeksi identitas sosiokultural daerah yang sarat nilai disiplin dan sportivitas. Pihaknya berterima kasih atas alokasi anggaran parlemen yang diarahkan untuk menyokong sektor pemajuan kebudayaan.

Apresiasi senada disampaikan oleh Camat Kuranji, Rozaldi Rosman, yang menilai denda festival berskala regional dengan total stimulus hadiah Rp29,5 juta ini memberikan ruang representatif yang luas bagi anak nagari untuk menjaga marwah adat Minangkabau di tengah arus modernisasi kota. Prosesi dimulainya festival ditandai dengan sepakan bola pertama (kick-off) oleh Evi Yandri Rajo Budiman bersama unsur pimpinan daerah. (mrh/gmn)

#Editor: RS Khadiva

0 comments:

Post a Comment


SOLOK SELATAN

PRAKIRAAN CUACA

eqmap

KHAZANAH

POLDA SUMBAR

iklan

TwitterFacebookGoogle PlusInstagramRSS FeedEmail

Statistic Views

Iklan

Iklan

Terkini

Iklan

FACEBOOK - TWEETER

Iklan

BUMN

Iklan

Iklan

REMAJA DAN PRESTASI

iklan

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiFmBCN4Mlg-A6lCQg1vNrmM-SXgqG_d0DYYAeLv0nWGLttd7i4t56IlhAeB1c-fxTmX4ZVKLBL_-ibnQeueR8mKL9vBD5sStVztfDrfkofmm4aXwcskiL9t23mNaOp4vwJ4EfipUqIC7ObmXQnD_7gnRsdAtOAZNL1NhP7fKNbcOUHtPTZc0ZPpq7SGxP2/w285-h400/HUT%20Kab%20limapuluh%20kota%20ke185.jpg

Blog Archive