11 Februari 2022

PB PMII Kecam Tindakan Represif di Wadas




PURWOREJO, (GemaMedianet.com| Warga sekitar Desa Wadas Purworejo, Jawa Tengah menolak penambangan batu untuk material urug Bendungan Bener. Bentrokan terjadi di lokasi.

"Bidang Advokasi dan Kebijakan Publik PB PMII mengecam tindakan represif terhadap Warga Wadas Penolak Tambang," ungkap Ahmad Latif saat di wawancarai.

Warga Desa Wadas yang sedang mempertahankan tanah dan ruang hidupnya dari kerusakan lingkungan mendapatkan kekerasan dan represif dari aparat keamanan. Dimana warga sekitar menghadang rencana sosialisasi pematokan lahan, diproyeksikan akan dijadikan lokasi pertambangan quarry batuan andesit sebagai bahan material Proyek Strategis Nasional (PSN) Bendungan Bener.

Menurut Ahmad Latif, Proyek pembangunan Bendungan Bener tersebut ke depan sangat mengebiri dan merampas hak serta ruang hidup warga, mata pencaharian, dan ekosistem. Aktivitas pertambangan akan mengeruk bukit dan berpotensi menyebabkan kerusakan lingkungan, serta mendatangkan bencana alam.

"Di sisi lain, proyek tambang yang akan dioperasikan di Desa Wadas tidak mempunyai AMDAL," ungkap Ahmad Latif.

Dia menyebut, tindakan yang dilakukan oleh aparat kepolisian merupakan suatu bentuk pelanggaran HAM, dan perampasan ruang hidup yang dilakukan telah memangkas konstitusi.

"Seperti yang kita ketahui bersama bahwa dalam UUD 1945 Pasal 28 a : “Setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya,” terang Ahmaf Latif.

Menurutnya lagi, pihaknya selaku organisasi dari embrio Nahdlatul Ulama sangat sepakat mengenai tanah yang sudah dikelola oleh rakyat selama bertahun-tahun, baik melalui proses iqtha' (redistribusi lahan) oleh pemerintah atau ihya’ (pengelolaan lahan), maka pemerintah haram mengambil tanah tersebut.

Undang Undang Dasar 1945 Pasal 33 ayat (3) secara implisit mengatakan, rakyat memiliki kedaulatan penuh untuk mengelola sumber daya alam.


Selain itu, penambangan yang terjadi di Bumi Wadas adalah jalan untuk melancarkan Proyek Strategis Nasional Bendungan Bener yang termaktub dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 42 Tahun 2021 yang merupakan turunan dari UU Cipta Kerja.

Padahal, dalam putusan Nomor 91/PUU-XVIII/2020 Tentang pengujian formil Undang Undang Nomor 11 Tahun 2020 Tentang Cipta Kerja mengamanatkan untuk menangguhkan segala hal, baik berupa tindakan maupun juga kebijakan yang bersifat strategis dan berdampak luas.

"Dengan demikian, pembangunan Bendungan Bener dan segala perangkat pendukungnya harus dihentikan secara cepat dan tegas. Jangan lagi ada tragedi perampasan hak-hak rakyat, dan merugikan rakyat dengan cara apapun," tegas Ahmad Latif.

Latif sapaan akrabnya, melanjutkan, bahwa atas nama rakyat, Warga NU, dan PB PMII, pihaknya meminta Kapolda Jateng untuk segera membebaskan warga Wadas yang ditahan.

Dia juga meminta kepada Gubernur Jateng untuk menunda pengukuran baik yang sudah disetujui rakyat maupun yang belum setuju atas nama rakyat dan atas nama warga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sampai selesai bermusyawarah, dan menghindarkan clash antara rakyat dengan aparat Negara.

Latif memberikan saran kepada pihak aparat Negara, "Bebaskan 60 warga yang ditahan, termasuk keluarga/kader PMII. Sebelum lonjakan dan amarah rakyat makin melonjak," tutupnya. (r)

0 comments:

Posting Komentar

Advertisement

loading...


eqmap

SUMATERA UTARA

JMSI

JMSI

Anggota DPD RI DR Alirman Sori

Anggota DPD RI DR Alirman Sori

POLDA SUMBAR

KOMUNITAS

KULINER

MENTAWAI

MANCANEGARA


Remaja dan Prestasi

TwitterFacebookGoogle PlusInstagramRSS FeedEmail

Statistic Views



Terkini


Rantau

Helmi Moesim dan Keluarga

Helmi Moesim dan Keluarga

HISTORIA


FACEBOOK - TWEETER


Artikel


BUMN


Khazanah



Adv

KARIR