PADANG (GemaMedianet.com) | DPRD Provinsi Sumatera Barat berkomitmen mengawal ketat penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Tahun 2027. Langkah ini diambil guna memastikan perencanaan pembangunan tetap berada pada jalur yang tepat di tengah tekanan fiskal nasional dan tingginya kebutuhan anggaran pemulihan pasca-bencana.
Ketua DPRD Sumbar, Muhidi, menegaskan bahwa RKPD 2027 tidak boleh sekadar menjadi dokumen administratif formal. “Program yang disusun harus tepat sasaran dan memberikan dampak nyata, terutama dalam percepatan rehabilitasi rekonstruksi pasca-bencana serta penguatan ekonomi daerah,” ujar Muhidi saat menghadiri Musrenbang RKPD Sumbar 2027 di Gubernuran, Rabu (8/4/2026).
Muhidi menjelaskan, tantangan pembangunan Sumbar ke depan sangat berat. Berdasarkan estimasi, kebutuhan anggaran untuk rehabilitasi dan rekonstruksi pasca-bencana hidrometeorologis tahun 2025 mencapai Rp22 triliun, dari total kerugian yang menembus angka Rp33,5 triliun.
Kondisi ini diperparah dengan terbatasnya ruang fiskal daerah akibat dinamika ekonomi global dan ketidakpastian geopolitik yang menekan APBN. “Angka Rp22 triliun ini bukan jumlah kecil. Pemerintah dituntut lebih selektif, efisien, dan membutuhkan terobosan sinergi antara pusat, provinsi, serta kabupaten/kota,” tegasnya.
Investasi Rp13,3 Triliun sebagai Solusi
Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah, menyebut tahun 2027 sebagai titik balik bagi Ranah Minang untuk keluar dari rutinitas administratif menuju pola kerja kolaboratif dengan semangat “Serempak Bergerak”. Pemprov menargetkan realisasi investasi menyentuh Rp13,3 triliun pada 2027.
“Kepala daerah harus berperan layaknya Chief Executive Officer (CEO) yang pro-investasi. Bupati dan wali kota harus menjadi problem solver di lapangan, terutama menjamin kepastian tata ruang dan lahan bagi investor,” ujar Mahyeldi.
Meski didera bencana, Mahyeldi optimis karena indikator makro seperti IPM (77,27) dan angka kemiskinan (5,31%) masih menunjukkan tren positif di atas rata-rata nasional.
Empat Pilar Strategis Investasi
Wakil Gubernur Sumbar, Vasko Ruseimy, memaparkan empat mesin pertumbuhan utama untuk 2027: konektivitas infrastruktur, maritim, energi terbarukan, dan pariwisata berkualitas. Proyek prioritas seperti Fly Over Sitinjau Lauik senilai Rp2,79 triliun (skema KPBU) dan operasional energi terbarukan di Ganggo Mudiak (165 MWe) menjadi urat nadi ekonomi baru.
“Strategi kita adalah investasi padat karya. Setiap proyek tidak hanya membangun fisik, tapi harus menyerap tenaga kerja secara masif,” tambah Vasko.
Ancaman "Godzilla El Nino" 2026
Dari perspektif pusat, Deputi Bidang Pembangunan Kewilayahan Bappenas, Medrilzam, memberikan peringatan keras. Fenomena perubahan iklim ekstrem, termasuk potensi “Godzilla El Nino” pada 2026, diprediksi akan memicu kekeringan hebat. Hal ini menjadi ancaman serius bagi Sumbar yang ekonominya masih ditopang oleh sektor pertanian.
#Editor: Marzuki RH









0 comments:
Post a Comment