SOLSEL, (GemaMedianet.com) | Sektor kuliner dinilai menjadi salah satu motor penggerak paling potensial dalam mengakselerasi ekonomi kerakyatan di Sumatera Barat. Anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat, Mario Syah Johan, mendorong pemerintah daerah untuk lebih serius mengemas festival-festival kuliner sebagai agenda rutin pariwisata yang memiliki dampak berganda (multiplier effect).
Menurut Mario, festival kuliner bukan sekadar ajang pameran masakan, melainkan strategi jitu untuk menghidupkan ekosistem UMKM dan memperkokoh identitas budaya Minangkabau di mata dunia.
“Kuliner adalah kekuatan utama kita. Melalui festival yang dikemas secara profesional, kita tidak hanya menjajakan rasa, tetapi juga menjual nilai sejarah dan filosofi di balik hidangan tersebut. Ini adalah cara efektif untuk menarik wisatawan sekaligus memastikan UMKM kita naik kelas,” ujar Mario Syah Johan saat berdiskusi mengenai pengembangan ekonomi kreatif di Padang, Rabu (13/5/2026).
Politisi ini menekankan bahwa sektor kuliner sangat inklusif karena melibatkan rantai pasok yang luas, mulai dari petani sebagai penyedia bahan baku, perajin bumbu, hingga jasa pengemasan dan transportasi.
Benteng Kelestarian Budaya
Selain aspek ekonomi, Mario menyoroti peran festival kuliner sebagai sarana edukasi bagi generasi muda. Di tengah gempuran tren makanan modern, kehadiran festival kuliner tradisional menjadi benteng pertahanan agar resep-resep autentik warisan leluhur tidak punah tergerus zaman.
“Kita punya kekayaan gastronomi yang luar biasa. Festival ini menjadi ruang bagi anak muda kita untuk mengenal kembali jati dirinya melalui rasa. Ketika identitas daerah kuat, maka daya tarik pariwisata kita pun akan semakin kompetitif di level nasional maupun internasional,” tambahnya.
Legislator dari daerah pemilihan (Dapil) Sumbar VII (Solok Raya) ini berharap dinas terkait dapat berkolaborasi lebih erat dengan komunitas kreatif dan pelaku usaha untuk menciptakan event yang memiliki standar kualitas tinggi. Ia memastikan bahwa DPRD Sumbar akan terus mendukung dari sisi regulasi dan penganggaran demi kemajuan sektor pariwisata berbasis budaya tersebut.
Dimensi Teknis Strategi Jitu
Pemerhati Kebijakan Publik dari Lensa Kamar Putih menilai Strategi pengembangan festival kuliner oleh Mario Syah Johan memiliki beberapa dimensi teknis:
Pertama, Forward & Backward Linkage, yakni Festival kuliner memperkuat "linkage" atau keterkaitan. Backward linkage ke arah hulu (petani rempah, peternak sapi/kerbau) dan forward linkage ke arah hilir (branding, kemasan, digital marketing).
Kedua, Cultural Diplomacy bahwa makanan adalah bahasa universal. Melalui festival, Sumatera Barat sedang melakukan "diplomasi rasa" yang mampu menembus batas geografis dan bahasa untuk mendatangkan devisa melalui pariwisata.
Ketiga, Standardization yaitu penyelenggaraan festival secara rutin akan memaksa UMKM untuk melakukan standardisasi kualitas, kebersihan (higienitas), dan kemasan, yang merupakan syarat mutlak agar produk lokal bisa menembus pasar global.
Cita rasa adalah warisan, festival adalah cara kita merayakannya. Mari terus lestarikan kekayaan kuliner Minang sebagai kebanggaan bangsa. (mrh/gmn)









0 comments:
Post a Comment