PADANG, (GemaMedianet.com) | Kesadaran berlalu lintas di Sumatera Barat kini tak lagi sekadar soal ketakutan akan surat tilang. Di bawah komando Kombes Pol. Muhammad Reza Chairul Akbar Sidiq, S.H., S.I.K., M.H, Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Sumbar bertransformasi menjadi institusi yang lebih membumi melalui pendekatan edukasi kreatif dan kearifan lokal.
Salah satu terobosan yang mencuri perhatian adalah kampanye bertajuk Tips dan Trick Anti Tilang Edition. Alih-alih menggunakan diksi hukum yang kaku, pesan ini dikemas secara ringan namun esensial.
Masyarakat diajak untuk proaktif melakukan "Self-Check" sebelum berkendara seperti Pemeriksaan kelengkapan surat-surat (SIM/STNK), Penggunaan Helm SNI secara benar (klik!), dan Disiplin melawan arus dan kepatuhan terhadap rambu.
Ramadhan : Melatih Sabar di Balik Kemudi
Memasuki bulan suci Ramadhan 1447 H, Ditlantas Polda Sumbar menyentuh sisi spiritual pengendara. Kombes Pol. Muhammad Reza menekankan filosofi bahwa "Berkendara adalah bagian dari ibadah sabar".
Ketenangan, disiplin, dan pengendalian diri saat menghadapi kemacetan jelang berbuka puasa menjadi refleksi dari kualitas ibadah puasa itu sendiri. Pendekatan ini terbukti efektif menurunkan tensi psikologis pengendara di jalan raya yang cenderung meningkat saat mobilitas tinggi.
Sentuhan Kearifan Lokal
Uniknya, Ditlantas Polda Sumbar tidak ragu menyisipkan elemen budaya Minangkabau dalam strategi komunikasinya. Personel di lapangan didorong menggunakan pendekatan yang santun, mencerminkan nilai Rasul Jo Pareso. Hal ini bertujuan agar pesan keselamatan tidak dianggap sebagai perintah, melainkan sebagai nasihat dari keluarga sendiri.
"Kepatuhan berlalu lintas bukan semata untuk menghindari tilang, tetapi untuk menjaga keselamatan diri sendiri dan orang lain. Kami ingin hadir bukan hanya sebagai penegak aturan, tapi sebagai pelindung yang dekat di hati masyarakat," ujar Kombes Pol. Muhammad Reza.
Kepemimpinan Kombes Pol. Muhammad Reza Chairul Akbar Sidiq memberikan warna baru pada wajah Polri di Sumatera Barat. Masyarakat mencatat transisi menarik dari Punitive Approach (pendekatan hukuman) menuju Persuasive Approach (pendekatan ajakan).
#Editor : Marzuki RH









0 comments:
Post a Comment