PADANG, (GemaMedianet.com) | Ironi penyaluran Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi jenis Biosolar kembali mencapai titik nadir di Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar). Di SPBU 14.251.597 kawasan By Pass Kalumbuk, Jum'at (20/2/2026), puluhan sopir truk terpaksa mengantre "asap" hingga 500 meter ke badan jalan, menanti pasokan yang bahkan belum tiba di lokasi.
Kondisi ini memicu ketegangan psikologis dan kerugian ekonomi bagi para pekerja sektor logistik yang kini terjebak dalam siklus: "Satu Hari Jalan, Satu Hari Mengantre."
Bagi para sopir truk seperti Aldo (37), kaburnya kepastian stok membuat mereka kehilangan waktu produktif. Ia mengaku harus bersiap bermalam di kabin truk hanya untuk memastikan tidak kehilangan posisi dalam antrean yang mengular panjang.
"Kami sudah berjam-jam mengantre, tapi kata petugas solarnya masih dalam perjalanan. Waktu tunggu bisa sampai satu hari. Intinya sekarang, kami satu hari kerja, satu hari habis untuk antre BBM," keluh Aldo dengan nada getir.
Kekecewaan yang memuncak membuat sebagian sopir mulai bersikap apatis terhadap kebijakan subsidi. Mereka menilai sistem yang ada saat ini justru menyuburkan praktik mafia, dan tidak menyentuh masyarakat kecil yang benar-benar membutuhkan.
"Harapan kami ke pemerintah, lebih baik tidak disubsidi saja daripada antre panjang seperti ini. Tidak efektif! Katanya stok cukup, tapi kok cepat habis? Adanya mafia BBM sepertinya bukan hal yang mustahil," tukas Aldo.
Sementara itu petugas SPBU menyatakan bahwa pendistribusian berjalan sesuai jadwal dan volume yang telah ditetapkan. Menurut mereka, tidak ada kelangkaan stok yang signifikan dari pihak distributor. (mz)









0 comments:
Post a Comment