PRAKIRAAN CUACA

eqmap

25 February 2026

By Pass Tanjung Aur "Mencekam" : Pemotor Nyaris 'Mencium Aspal' Akibat Terjepit Truk Antrean Solar


PADANG, (GemaMedianet.com) | Jalur cepat By Pass Tanjung Aur, Kota Padang, berubah menjadi zona berbahaya pada Rabu (25/2/2026). Antrean panjang truk pemburu Biosolar tidak hanya memicu kemacetan kronis, tetapi mulai mengancam nyawa pengendara roda dua yang terjepit di antara deretan "raksasa besi".

Pemandangan ini mempertegas bahwa krisis solar di Padang bukan lagi sekadar isu ekonomi, melainkan ancaman keselamatan publik yang nyata.

Pantauan di lapangan menunjukkan situasi yang mengerikan. Akibat sisi kiri jalan (jalur lambat) tertutup total oleh puluhan truk yang parkir mengantre BBM, kendaraan lain terpaksa berebut ruang di jalur tengah dan kanan.

Beberapa pengendara roda dua terpantau nyaris terjatuh atau "mencium aspal" setelah kehilangan keseimbangan karena terjepit diantara truk yang melintas dan truk yang sedang berhenti mengantre. Ruang gerak yang menyempit membuat gesekan antar-kendaraan menjadi risiko harian yang tak terhindarkan.

"Nyawa saya hampir melayang akibat ruang gerak yang menyempit di badan jalan hingga membuat gesekan dengan pengendara roda dua dan roda empat yang bersama-sama melintas di kawasan SPBU Tanjung Aur ini," ujar Rahman (53) pengendara roda dua yang terlihat masih shock saat menepi di depan SPBU Tanjung Aur. 

BACA JUGA :  By Pass 'Lumpuh' Solar : Antrean Truk Mengular Hingga Lampu Merah Simpang Pasar Ambacang

Rahman juga menyesalkan klaim sepihak SPBU dari waktu ke waktu bahwa "Stok BBM cukup". Tetapi faktanya kini terasa kian ironis, jika dibandingkan dengan taruhan nyawa para pemotor di Tanjung Aur.  

"Jika memang Stok BBM cukup kenapa masih ada antrean truk meluber hingga ke bahu jalan.  Ini yang namanya aneh tapi nyata. Sebuah penghinaan terhadap logika masyarakat yang setiap hari melihat kemacetan akibat antrean solar," ujarnya dengan wajah masih menyimpan kemarahan. 

Jebolan IKIP Padang ini mulai mempertanyakan efektivitas pengawasan di jalur By Pass Tanjung Aur. Meskipun keluhan ini telah menjadi "penyakit tahunan", solusi permanen dari pihak terkait—baik pemerintah daerah setempat maupun Pertamina—seolah tidak pernah menyentuh akar masalah.

"Keberadaan puluhan truk yang memakan badan jalan ini tidak hanya merusak estetika kota, tetapi secara teknis melumpuhkan fungsi By Pass sebagai jalur distribusi logistik cepat," ujarnya lagi. 

Di sisi lain, Para Pemerhati Migas menilai Jika kuota memang mencukupi untuk kebutuhan normal, maka dugaan adanya praktik "Helikopteran" (kendaraan yang mengisi berulang kali untuk ditimbun atau dijual ke industri) menguat.

Penggunaan sistem QR Code yang digadang-gadang sebagai solusi digital, patut dipertanyakan efektivitasnya. Apakah sistem ini "kebobolan" oleh oknum yang menggunakan banyak identitas, ataukah ada pembiaran terhadap kendaraan dengan tangki modifikasi?

Kemudian, Anomali Lokasi. Mengapa penumpukan solar berpindah-pindah titik di sepanjang By Pass? Apakah ada pola pengiriman yang tidak merata?Jangan tunggu ada korban jiwa dari pengendara roda dua untuk mengevaluasi sistem distribusi solar di Kota Padang. 

Selanjutnya, Pemerintah daerah dan aparat keamanan harus segera turun tangan melakukan sterilisasi badan jalan. Kapan perlu SPBU yang membiarkan antrean meluber hingga membahayakan pengguna jalan lain harus diberi sanksi administratif yang tegas, tukas Ronni. (mz)

#Editor: Marzuki RH 

0 comments:

Post a Comment

SOLOK SELATAN

KHAZANAH

POLDA SUMBAR

iklan

TwitterFacebookGoogle PlusInstagramRSS FeedEmail

Statistic Views

Iklan

Iklan

Terkini

Iklan

FACEBOOK - TWEETER

Iklan

BUMN

Iklan

Iklan

REMAJA DAN PRESTASI

iklan

Blog Archive