15 May 2026

Tragedi Berdarah di Tepian Batang Kuantan, Sembilan Penambang Emas Ilegal Tewas Tertimbun Longsor




SIJUNJUNG, (GemaMedianet.com) | Sisi kelam aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) kembali memicu petaka memilukan di Ranah Lansek Manih. Sebanyak sembilan orang pekerja tambang dilaporkan tewas seketika setelah tebing tanah di lokasi penambangan runtuh dan menimbun mereka hidup-hidup di kawasan Kampung Sintuk, Jorong Koto Guguak, Nagari Guguak, Kecamatan Koto VII, Kabupaten Sijunjung, Kamis (14/5/2026) sekitar pukul 12.00 WIB.

Tragedi maut ini terjadi di tengah gempuran cuaca ekstrem dan curah hujan tinggi yang melanda wilayah Sijunjung dalam beberapa hari terakhir. Lokasi lubang tambang ilegal yang berada tepat di area pertemuan (konfluens) tiga aliran sungai besar disinyalir menjadi faktor utama rapuhnya struktur tebing hingga memicu longsoran fatal.

Informasi yang dihimpun di lapangan menyebutkan, aktivitas dompeng (penambangan emas mekanis tradisional) di bantaran sungai tersebut awalnya berjalan normal sejak pagi hari. Para pekerja tetap nekat beroperasi meskipun air di kawasan hulu dilaporkan telah mengalami peningkatan debit.

Nahas, sesaat setelah azan Dzuhur berkumandang, suasana berubah menjadi horor mencekam. Tebing tanah setinggi belasan meter di atas kepala para penambang mendadak runtuh tanpa peringatan. Jutaan kubik material lumpur, bebatuan, dan potongan kayu langsung menghantam serta menenggelamkan area mesin dompeng. Dalam hitungan detik, sembilan pekerja yang berada di dalam lubang galian tertimbun total tanpa sempat menyelamatkan diri.

Evakuasi Manual Enam Jam

Wali Nagari Guguak, Zainal, membenarkan musibah massal yang menimpa warganya tersebut. Begitu kabar runtuhnya tebing tambang menyebar, ratusan warga kampung langsung berhamburan ke lokasi dengan membawa peralatan seadanya seperti cangkul dan sekop guna melakukan pencarian darurat.

"Yang sedang bekerja dan tertimbun ada sembilan orang. Lokasinya di Kampung Sintuk, Jorong Koto Guguak. Proses evakuasi berlangsung sangat dramatis dan memakan waktu sekitar enam jam hingga menjelang Maghrib karena medan yang sulit, tanah yang labil, dan debit air sungai yang terus naik," terang Zainal.

Satu per satu jasad korban akhirnya berhasil dikeluarkan dari jepitan material longsoran. Korban pertama yang dievakuasi adalah Ujang Kandar (40). Tak berselang lama, delapan korban lainnya juga berhasil ditemukan tim warga dalam kondisi meninggal dunia (MD) sebelum akhirnya dipulangkan ke rumah duka masing-masing.

Adapun data sembilan korban yang meregang nyawa dalam tragedi kelam ini adalah: Ujang Kandar (40), Haris (23), Atan (20), Baim (17), Acai (43), Marsel Buyuik (23), Ditol (40), Madi (24), dan Diok (22). Sebagian besar dari korban merupakan generasi muda produktif yang selama ini menggantungkan hidup dari sirkulasi uang emas ilegal.

Abaikan Imbauan demi Perut

Zainal mengungkapkan rasa prihatin yang mendalam karena sebelum tragedi terjadi, pihak pemerintahan nagari sebenarnya telah berulang kali melarang para penambang untuk turun ke sungai mengingat kondisi cuaca yang sangat berbahaya.

"Terkait kondisi cuaca buruk, kami sudah sampaikan untuk menahan kegiatan tambang. Bahkan pagi hari sebelum kejadian, saya sendiri yang langsung mengingatkan mereka. Tapi peringatan itu tetap diabaikan," keluh Zainal dengan nada lirih.

Secara geografis, lokasi PETI Kampung Sintuk berada di titik krusial pertemuan arus tiga sungai besar: Batang Kuantan, Batang Ombilin, dan Batang Sinamar. Ketika hujan lebat mengguyur hulu, arus gabungan dari Batang Ombilin dan Batang Sinamar mengalir deras menghantam dinding tebing Batang Kuantan, menciptakan erosi bawah (scouring) yang membuat tanah di atas galian dompeng menjadi sangat rawan roboh.

Meskipun menyadari nyawa menjadi taruhan, jerat ekonomi dan minimnya lapangan pekerjaan alternatif di wilayah tersebut membuat masyarakat seolah tidak punya pilihan lain. "Memang itu mata pencarian utama masyarakat sekarang. Mau apa dikata," tukas Zainal.

BPBD Tak Terima Laporan Resmi

Ironisnya, besarnya skala korban jiwa dalam bencana tambang ini sempat luput dari radar kedaruratan instansi teknis. Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sijunjung, Satria Zali, mengaku pihaknya sama sekali tidak menerima laporan resmi dari aparatur bawah terkait peristiwa tersebut.

“Kepada kami di BPBD Sijunjung tidak ada laporan langsung masuk dari lapangan. Kami justru baru mengetahui informasi ini dari grup WhatsApp,” akunya jujur.

Satria menambahkan, maraknya aktivitas PETI di sejumlah wilayah aliran sungai di Sijunjung memang kerap dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan kucing-kucingan, sehingga menyulitkan pengawasan dan pemantauan berkala dari pemerintah daerah maupun aparat penegak hukum.

Tragedi berdarah di Kampung Sintuk ini kembali membuka mata publik mengenai bahaya laten PETI di Sumatera Barat. Selain merusak morfologi sungai dan memicu kerusakan lingkungan hidup yang masif, aktivitas tanpa izin ini terus konsisten menuntut tumbal nyawa manusia akibat nihilnya standar keselamatan kerja (K3). Penegakan hukum yang tegas serta penyediaan solusi ekonomi alternatif kini menjadi bola panas di tangan Pemkab Sijunjung dan kepolisian agar tragedi serupa tidak kembali berulang. (dbs/dp/gmn)

#Editor: Marzuki RH 

0 comments:

Post a Comment


SOLOK SELATAN

PRAKIRAAN CUACA

eqmap

KHAZANAH

POLDA SUMBAR

iklan

TwitterFacebookGoogle PlusInstagramRSS FeedEmail

Statistic Views

Iklan

Iklan

Terkini

Iklan

FACEBOOK - TWEETER

Iklan

BUMN

Iklan

Iklan

REMAJA DAN PRESTASI

iklan

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiFmBCN4Mlg-A6lCQg1vNrmM-SXgqG_d0DYYAeLv0nWGLttd7i4t56IlhAeB1c-fxTmX4ZVKLBL_-ibnQeueR8mKL9vBD5sStVztfDrfkofmm4aXwcskiL9t23mNaOp4vwJ4EfipUqIC7ObmXQnD_7gnRsdAtOAZNL1NhP7fKNbcOUHtPTZc0ZPpq7SGxP2/w285-h400/HUT%20Kab%20limapuluh%20kota%20ke185.jpg

Blog Archive