(GemaMedianet.com) | Harapan warga di sepanjang bantaran Sungai Batang Kuranji untuk terbebas dari ancaman banjir bandang kini dihadapkan pada kenyataan pahit yang kasat mata. Proyek penguatan tebing sungai yang menggunakan teknologi geobag, yang seharusnya menjadi benteng pertahanan terakhir, justru menunjukkan tanda-tanda kegagalan struktural bahkan sebelum ia diuji oleh luapan air.
Temuan lapangan di kawasan Jembatan Bypass hingga Kampung Kelawi dan Adzkia tidak bisa dianggap remeh. Geobag yang merekah, robek, dan bergeser adalah alarm bahaya. Persoalannya bukan sekadar estetika konstruksi, melainkan potensi malapraktik teknik yang fatal: dugaan penggunaan batu besar sebagai pengisi kantong geotekstil—sebuah langkah yang secara mendasar menyalahi kaidah teknik sipil karena menciptakan tekanan titik (point load) yang merusak struktur dari dalam.
Keterlibatan PT Nindya Karya, sebuah perusahaan konstruksi milik negara (BUMN) dengan rekam jejak panjang, menjadikan kegagalan ini sebagai pertanyaan besar. Bagaimana mungkin sebuah perusahaan kelas kakap dengan sistem pengawasan yang seharusnya berlapis, bisa membiarkan adanya penyimpangan material pengisi di lapangan? Apakah ini bentuk pengabaian spesifikasi demi efisiensi biaya, ataukah ada kelemahan akut dalam pengawasan teknis dari pihak Balai Wilayah Sungai Sumatera (BWSS) V selaku pemilik proyek?
Dalam kacamata Administrasi Publik, proyek infrastruktur bukan sekadar penyerapan anggaran tahunan. Ia adalah kontrak sosial antara pemerintah dan rakyat. Ketika uang negara yang jumlahnya tidak sedikit dikucurkan untuk melindungi nyawa warga, maka setiap inci pengerjaannya harus mematuhi standar keselamatan tertinggi. Papan informasi proyek yang seringkali absen di beberapa titik juga menambah aroma "proyek siluman" yang menutup ruang pengawasan masyarakat.
Kita tidak boleh menunggu banjir bandang datang untuk membuktikan apakah tanggul ini berfungsi atau justru hanyut terbawa arus. BWSS V dan PT Nindya Karya harus segera melakukan audit teknis terbuka. Jangan biarkan masyarakat terus dihantui rasa waswas di tengah cuaca ekstrem yang sulit diprediksi.
Rakyat tidak butuh sekadar formalitas pembangunan; rakyat butuh perlindungan yang nyata. Jika tanggul ini gagal sebelum diterjang banjir, maka yang hancur bukan hanya kain geotekstilnya, melainkan juga kepercayaan publik terhadap integritas pembangunan infrastruktur di Sumatera Barat. (red)









0 comments:
Post a Comment