PADANG, (GemaMedianet.com) | Memasuki libur Idulfitri 1447 Hijriah, kawasan Kayu Aro, Kelurahan Bungus Barat, Kecamatan Bungus Teluk Kabung, kembali riuh. Ribuan warga dan perantau memadati lokasi ini bukan untuk mencari wahana teknologi tinggi, melainkan untuk menaiki Buayan Kaliang, sebuah kearifan lokal berupa ayunan kayu tradisional yang digerakkan secara manual.
Keunikan Buayan Kaliang terletak pada cara kerjanya; ayunan raksasa ini berputar vertikal berkat kekuatan otot beberapa pria dewasa yang memutar porosnya. Suara decit kayu dan gelak tawa penumpang yang membubung ke udara menjadi melodi khas lebaran di selatan Kota Padang ini.
Bagi masyarakat Bungus, Buayan Kaliang adalah agenda wajib setahun sekali yang hanya muncul saat lebaran. Keberadaannya menjadi magnet utama bagi para pemudik untuk bernostalgia dengan masa kecil mereka.
"Ini adalah jantungnya lebaran di Bungus. Tanpa Buayan Kaliang, rasanya seperti ada yang kurang dalam tradisi mudik kami," ujar Wiki, salah seorang warga setempat yang rutin berkunjung setiap tahun.
Melihat antusiasme yang luar biasa, warga setempat bersama pemerintah kelurahan menyulap kawasan Kayu Aro menjadi ekosistem wisata keluarga yang terpadu. Selain ayunan legendaris tersebut, pengunjung juga disuguhi berbagai fasilitas pendukung.
Pertama, Wisata Kuliner yakni menjajakan makanan khas daerah untuk berbuka dan camilan lebaran. Kedua, Area Bermain Anak seperti menyediakan berbagai wahana mini tambahan. Ketiga, Pojok Mewarnai berupa ruang kreatif bagi anak-anak untuk mengasah imajinasi.
Kemeriahan di Kayu Aro tidak hanya melestarikan budaya, tetapi juga memberikan dampak ekonomi nyata bagi UMKM di Bungus Teluk Kabung. Putaran manual Buayan Kaliang secara simbolis ikut memutar roda ekonomi warga pesisir.
Bagi Anda yang ingin merasakan esensi lebaran yang autentik di Padang, menikmati sore di Bungus Barat sambil melihat kegigihan para pemutar Buayan Kaliang adalah pengalaman yang tak boleh dilewatkan. (kmf)









0 comments:
Post a Comment