DHARMASRAYA, (GemaMedianet.com) | Proyek Peningkatan Jaringan Irigasi Daerah Irigasi (D.I) Batanghari di Kabupaten Dharmasraya menuai sorotan tajam. Hingga akhir Desember 2025, progres pengerjaan proyek vital bagi sektor pertanian ini dilaporkan macet dan hanya menyentuh angka 10 persen.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar dari berbagai pihak, mengingat jaringan irigasi tersebut merupakan urat nadi bagi produktivitas sawah masyarakat di sepanjang aliran Batanghari.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) kegiatan tersebut, Hidayat, saat dikonfirmasi awak media, Selasa (27/1/2026) membenarkan bahwa proyek peningkatan jaringan irigasi itu berada di bawah kewenangan dan pengawasannya.
Namun, suasana menjadi janggal ketika pertanyaan beralih ke persoalan teknis dan realisasi lapangan. Saat dimintai klarifikasi mengenai laporan progres yang hanya mencapai 10 persen hingga pengujung tahun, Hidayat memilih untuk tidak memberikan komentar.
Sikap bungkam sang PPK ini memicu spekulasi terkait adanya kendala serius dalam manajemen proyek, atau potensi kegagalan kontrak yang dapat merugikan daerah dan petani di Dharmasraya.
Dampak bagi Petani
Rendahnya progres pengerjaan jaringan irigasi ini dipastikan berdampak langsung pada Pertama, Ketahanan Pangan. Yakni terganggunya jadwal tanam petani karena pasokan air yang tidak optimal.
Kedua, Anggaran. Risiko sisa anggaran yang tidak terserap secara maksimal pada tahun anggaran 2025.
Ketiga, Infrastruktur. Kerusakan struktur yang belum selesai akibat cuaca jika tidak segera dilanjutkan.
Sampai berita ini diturunkan, pihak terkait lainnya belum memberikan pernyataan resmi mengenai kelanjutan proyek atau sanksi bagi pelaksana proyek yang tidak mencapai target di lapangan. (mz)









0 comments:
Post a Comment