16 January 2020

Renyahnya Diskusi Pemahaman Tauhid Dalam Kehidupan, Bersama HendRA – MAHyuzil


KAB.SOLOK, (GemaMedianet.com— Selasa kemarin, tim jalan-jalan ke Kabupaten Solok sekaligus memenuhi acara silahturahmi dengan bakal calon Bupati dan Wakil Bupati Solok (Hendra Saputra SH, M.Si dan Buya H. Mahyuzil Rahmat S.Ag) yang disingkat RAMAH.

Selanjutnya dengan tutur bahasa lembut, sang kandidat mengajak tim duduk di lapau kayu (warung) yang cukup besar dan banyak warga. Dalam pembicaraan itu, awalnya  hanya tujuh orang saja. Namun, setelah sejam lamanya berdiskusi tentang ketuhanan (Allah SWT), tanpa disadari meja tim sudah digandrungi oleh seisi lapau tersebut.

Yang sangat menyenangkan, meski diskusi tidak begitu mendalam membahas seputar “Politik”. Bisa jadi lantaran salah satu pasangan RAMAH adalah seorang Guru/Buya bagi jemaahnya.

Dari hal itu, tim menyimpulkan bahwa ternyata lebih banyak orang-orang tertarik membahas konten Ketuhanan jika ketimbang konten Syariat saja, apalagi membahas seputar politik.

Tak terasa empat jam diskusi berjalan, tim seperti dihipnotis oleh konten Ketuhanan yang mampu menggugah kesadaran akan kehidupan. Begitu juga orang-orang yang ada di seisi lapau.

Dalam hal ini, pintu masuk dakwah di tengah-tengah masyarakat cukup menarik karena tingkat keimanan ummat masih sangat tinggi, meski pun berada dalam pengaruh budaya sekuler oleh segala macam faktor.

Dituturkan Hendra Saputra, SH, M.Si, kemajuan teknologi mempengaruhi generasi dari berbagai arah. Pengaruhnya telah sedemikian rupa merasuki jiwa. Jika tidak pandai membina jiwa generasi mendatang, dengan menanamkan nilai-nilai keimanan dalam nalar pikir dan akal budi mereka. Tentunya, mereka bisa masuk dalam pengaruh negatifnya.

“Bila ini terjadi, sudah sepatutnya dilakukan tindakan, agar pintu spiritualitas yang terbuka tidak diisi oleh ajaran lain yang bukan berasal dari ajaran spiritualitas Islam," kata Birokrat Muda Hendra Saputra kepada tim (Target dan KD, red).

Selanjutnya, Buya Mahyuzil dengan diiringi oleh suasana santai namun cukup mendukung, menerangkan sisi Ketuhanan (Tauhid) dan Tasauf dihadapan tim.


Dikatakan Buya H. Mahyuzil, sesungguhnya amalan lahiriah berupa ibadah Mahdhah dan Muamalah (aktivitas atau perbuatan yang sudah ditentukan syarat serta rukunnya, dan hubungan manusia dalam interaksi sosial sesuai syariat) tidak akan mencapai kesempurnaan, kecuali jika didasari plus diramu dengan nilai keutamaan tersebut. Sebab nilai-nilai itu senantiasa mengalir dalam hati dan tertuang di setiap gerak, serta perilaku keseharian.

Seorang muslim yang ber-iman “Nalar dan hatinya bersinar, pandangan akal serta pikirannya tajam”, maka akal pikir dan nuraninya dapat berpadu dalam berinteraksi dengan Allah sekaligus sesama manusia.

Ajaran tentang ibadah didasarkan atas kesucian hati yang dipenuhi dengan keikhlasan, cinta serta dibersihkan dari dorongan hawa nafsu, egoisme dan sikap ingin menang sendiri. Agama seseorang tidak sempurna, jika kehangatan spiritualitas yang dimiliki tidak disertai dengan pengalaman ilmiah dan ketajaman nalar, sebut Buya Mahyuzil.

Pentingnya akal bagi iman, ibarat pentingnya mata bagi orang yang sedang berjalan. Hal itu tidak akan mencapai kesempurnaan, kecuali jika didasari dan diramu dengan nilai keutamaan tersebut, sebab nilainya juga senantiasa mengalir dalam hati dan tertuang pada setiap gerak serta perilaku keseharian.

Agama seseorang tidak sempurna, jika kehangatan spiritualitas yang dimiliki tidak disertai dengan pengalaman ilmiah dan ketajaman nalar. Pentingnya akal bagi iman, ibarat pentingnya mata bagi orang yang sedang berjalan. Sebut Buya H. Mahyuzil Rahmat mengulang kembali paparannya. Tanpa disadari, pandangan mata serasa tak mau berpaling dari kedua Kandidat ini.

Diskusi empat jam, serasa empat menit saja, karena saking menariknya percakapan tersebut dengan RAMAH (HendRA – MAHyuzil). Begitu juga orang-orang yang ada di seisi lapau, sepertinya juga merasakan hal yang sama.

Alhamdulillah, semenjak pertemuan itulah “Optimisme” tim serasa lahir kembali. Selain itu, budaya Minangkabau sangat identik dengan agama (Islam). Hal ini tidak akan pudar, jika dirawat dengan pemaparan cara dakwah yang lembut dan mudah diterima. (rel/Tim).

0 komentar:

Post a Comment

Iklan

Iklan

Iklan

TwitterFacebookGoogle PlusInstagramRSS FeedEmail

Statistic Views

IKLAN KPU

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

Ekonomi Bisnis

IKLAN

Terkini

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

FACEBOOK - TWEETER