(GemaMedianet.com) | Pemandangan di sepanjang Jalan Khatib Sulaiman dalam beberapa hari terakhir kembali mengusik kenyamanan publik. Jalur protokol yang seharusnya menjadi etalase kemajuan Ibu Kota Provinsi ini, justru berubah menjadi deretan panjang truk dan kendaraan bermesin diesel yang mengular. Para sopir terjebak berjam-jam, bukan demi mengejar ritase, melainkan demi setetes Biosolar yang kian sulit didapat.
Antrean ini bukan sekadar masalah kemacetan lalu lintas. Di balik deretan kendaraan yang parkir hingga memakan badan jalan tersebut, ada denyut ekonomi yang sedang terengah-engah. Setiap jam yang terbuang dalam antrean adalah hilangnya produktivitas. Bagi para sopir truk logistik, waktu adalah uang; dan setiap liter solar yang mereka tunggu adalah napas bagi operasional mereka yang tak jarang sudah tercekik biaya perawatan yang tinggi.
Kita patut bertanya, mengapa dilema klasik ini terus berulang di jantung kota? Khatib Sulaiman adalah simbol aktivitas pemerintahan dan bisnis. Membiarkan antrean mengular di sana sama saja dengan membiarkan wajah Kota Padang tampak semrawut dan tidak berdaya di hadapan persoalan distribusi energi.
Pihak otoritas terkait, baik itu Pertamina maupun pemerintah daerah, tidak boleh lagi hanya melempar jawaban normatif tentang "kuota yang terbatas" atau "distribusi yang lancar". Jika distribusi dianggap lancar, mengapa antrean justru semakin panjang? Jika kuota dianggap cukup, mengapa kelangkaan tetap menjadi hantu bagi para sopir? Ada yang tidak sinkron antara data di atas kertas dengan fakta di aspal jalan.
Perlu ada evaluasi menyeluruh terhadap pengawasan di lapangan. Apakah pengisian BBM bersubsidi ini sudah benar-benar tepat sasaran? Ataukah masih ada celah bagi para "pemain" yang memanfaatkan disparitas harga untuk keuntungan pribadi, sehingga jatah para sopir yang benar-benar membutuhkan justru ludes di tengah jalan?
Pemerintah Kota Padang dan aparat kepolisian juga harus segera bertindak lebih tegas dalam mengatur arus lalu lintas di kawasan terdampak. Namun, penertiban lalu lintas hanyalah solusi di permukaan. Akar masalahnya adalah ketersediaan barang.
Jangan biarkan Khatib Sulaiman menjadi monumen kegagalan tata kelola energi di daerah. Publik menunggu langkah konkret: penambahan pasokan jika memang kurang, atau pengawasan ketat jika memang ada kebocoran. Para sopir sudah cukup lelah dengan debu dan panas jalanan, jangan lagi ditambah dengan ketidakpastian yang menguras waktu dan tenaga mereka. (*)









0 comments:
Post a Comment