24 August 2019

Rekam Jejak Burmani Koto, Tak Padam Tertiup Zaman


PADANGPANJANG(GemaMedianet.com— Siapa tak kenal dengan sosok pria paruh baya yang satu ini di Kota Padang Panjang. Pria yang memiliki nama Asli Burmani Yoeng Boer ini lahir di Padang, pada tanggal 13 September 1949.

Dalam perjalanan hidupnya, pria paruh baya ini sering kali menciptakan lagu-lagu yang sifatnya menghimbau kepada masyarakat tentang pendidikan, budaya. Bahkan tentang prestasi kota, serta untuk calon kepala daerah yang ingin menyampaikan visi misinya.

Mengawali karir sebagai Band Bocah, Seraga Band (Sekolah Rakyat Tiga) di Pendopo Palembang PTSI (Perseroan Terbatas Stantvac Indonesia) 1959 Burmani mampu melalang buana di Perairan Nusantara.

Ketertarikan Burmani pada dunia musik, yaitu berawal sejak ia duduk di kelas 2 Rakjat (Rakyat) yang kalau sekarang kita mengenalnya dengan SD (Sekolah Dasar). Konon ketertarikan Burmani untuk bermain musik pun muncul saat ia melihat sang ayah memainkan gitarnya.

Awal karir Burmani dimulai pada tahun 1961, saat ia mengikuti sang ayah pindah tugas ke Bandung yang bertempat di Asrama Kosambi Bandung. Dan di dalam tahun itu juga, Burmani membentuk sebuah grup band di Bandung yang diberi nama RBC (Remaja Bhayangkara Grup).

Setelah Bandung, pada tahun 1964 ia pindah ke Cirebon, dan kembali membuat grup band yang diberi nama Batik Cirebon.

Setelah sekian lama merantau akhirnya rindu kampung halaman pun datang menghampiri. Tepatnya pada tahun 1965, Burmani memutuskan untuk pulang kampung ke Sumatera Barat yaitu di Kota Padang Panjang, dan kemudian melanjutkan pendidikannya di SMP Negeri 2 Padang Panjang, setelah tamat di sana ia hijrah ke Padang.

Tahun bertukar musim berganti Burmani akhirnya mendapatkan Kontrak Pertamanya yaitu di Hotel Muara Padang Pada tahun 1970 - 1972.

Dan tak sampai di situ saja, Burmani juga sukses mendapatkan Kontrak Kedua. Tepatnya pada tahun 1973, ia dikontrak oleh PELNI (Pelayaran Nasional) untuk bermain di Kapal Mey Abeto milik PT. Arafat jurusan Teluk Bayur - Tanjung Priok bersama Hani Tuhateru, Oto Ongirwalu, Agus, dan Qulik. Inilah yang pada akhirnya membentuk sebuah grup band yang dinamakan Family Join Band Kota Padang.

Selama kurang lebih dua tahun melakukan perjalanan bersama, tentu sudah banyak suka dan duka yang telah dilalui bersama, tepatnya pada tahun 1975 mereka bubar dikarenakan kebutuhan masing - masing.

Karena darah muda yang masih sangat bergejolak untuk berkarya dan terus berkarya, setelah bubar Burmani pun hijrah ke Pekanbaru, Riau dan melanjutkan karir solonya di sana.

Tak mau berlama-lama di perantauan, Burmani kembali memutuskan untuk pulang ke kampung halaman. Tepatnya pada tahun 1976, ia kembali ke Padang dan bergabung dengan Grup Band Limax Kota Padang.

Pada tahun 1977, ia dipanggil untuk rekaman di Studio Roxy Jakarta dan di sana lah Burmani sukses menciptakan lagu pertamanya yang berjudul, "Hanya Untukmu".

Nasib baik selalu datang menghampiri. Tepat pada tahun 1978, ia dipanggil oleh Pemerintah Kota Padang Panjang untuk bekerja menjadi Pegawai Negeri di lingkungan Pemerintahan Kota Padang Panjang.

Sejarah baru kembali mewarnai kehidupan pria tersebut, yaitu pada tahun 1984 Burmani diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) pada Kantor Balaikota Padang Panjang, dan langsung membentuk grup band di bawah pimpinan Walikota Drs. Rusdian Said. 

Di tahun 1991, Burmani dipindahtugaskan ke PDAM Kota Padang Panjang dan kembali membuat grup band (Band PDAM) sampai dengan tahun 1997. Dan dipindah tugaskan lagi ke Dispenda sampai tahun 2000. Pada tahun  2001, Burmani dialih tugaskan ke Dinas Perhubungan Kota Padang Panjang sampai pensiun pada 1 Oktober 2007.

Setelah pensiun, Burmani aktif dengan Sanggar Seni Rang Koto di bawah Pimpinan Badmon Oktivi Paulin, S.sn sampai sekarang. Memasuki usianya yang sudah lanjut, kehidupannya selalu dipenuhi dengan hal-hal yang berbaur dengan musik dan seni, serta masih aktif mengisi pertunjukan musik dari lokal sampai pusat ibukota dan luar propinsi.

Burmani juga menitipkan pesan ke generasi muda masa kini. "Silahkan berkarya sebaik dan sebanyak mungkin, tapi jangan pikirkan laku atau tidak. Berkaryalah dulu, dan perlu juga diingat musik yang yang dimainkan haruslah memenuhi selera publik," pesannya. (Kominfo/Ki)

0 komentar:

Post a Comment

TwitterFacebookGoogle PlusInstagramRSS FeedEmail

Statistic Views

Florikultura Indonesia 2019 dan Pedatani

Ekonomi Bisnis

IKLAN

IKLAN

Terkini

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

FACEBOOK - TWEETER