Ruang Iklan Anda

18 August 2019

Pegiat Selam Sumbar Ajak Pemda dan Masyarakat Peduli Lingkungan

Pegiat selam saat mengutip sampah di bawah laut di perairan bagian Timur Pulau Marak, Pesisir Selatan
PADANG(GemaMedianet.com— Sejumlah pegiat selam (diver) di Sumatera Barat (Sumbar) sangat prihatin dengan kondisi pantai dan bawah laut wilayah perairan bagian barat tengah Sumatera. Keprihatinan itu muncul, saat melancong ke bagian Timur Pulau Marak, terletak di Kecamatan Koto IX Tarusan, Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel), atau tepatnya di Nagari Sungai Pinang.

Para penyelam menemukan ribuan sampah plastik berjejer di sepanjang pantai bahkan di bawah laut. Salah satunya itu diunggah pemilik akun Instagram @tanharimage, ia mengunggah video berdurasi 33 detik, berisi imbauan kepada pemerintah daerah dan mengajak masyarakat untuk menyadari bahwa ancaman sampah mengganggu kelangsungan ekosistem lingkungan hidup.

Mengutip kata-katanya, “Hari ini kita baru selesai log pertama (divelog diver) di Pulau Marak. Keindahannya cukup bagus, tetapi terlalu banyak sampah.”

Ia melanjutkan, ‘Artinya pemerintah daerah, masyarakat kita harus lebih peduli terhadap lingkungan kita. Karena lingkungan kita adalah lingkungan yang penuh ekosistem yang baik, untuk kelangsungan kehidupan anak cucuk kita,” ujarnya menutup dengan kalimat Salam Konservasi.

Saat dikonfirmasi secara daring, Jumat (16/8/2019), pemilik akun mengakui, ketika ia dan bersama rekan-rekannya sesama diver di lapangan melihat tidak hanya di pantai bergelimang sampah, di bawah laut juga demikian. Rata-rata sampah yang mengendap di pantai itu sampah bekas siap pakai sehari-hari dan lebih dominan itu ialah plastik, mulai dari plastik yang baru mendarat dan sudah lama.

“Plastik lebih dominan, seperti bungkusan sabun mandi, bungkusan minyak goreng, plastik botol mineral, kantong-kantong kresek yang dipenuhi lumpur karena lama tertimbun atau lama terselip diantara karang,” ujarnya.

Tanhar sapaan akrab Kariadil Harefa itu melanjutkan, selebihnya ada potongan pohon, ranting kayu dan bahkan ada kerucut lalu lintas alias pemisah jalan (traffic cone) dan ember plastik yang pakai para tukang.


“Semuanya kami temukan sampai pada titik kedalaman 15 meter, artinya sampah itu tidak hanya menghiasi pantai tetapi juga bawah laut. Itu sangat mengancam keselamatan terhadap terumbu karang dan segala jenis habitat yang ada di dalam laut,” terangnya.

Para diver baik dari Nature educaTed Scuba Diving (Nat Dive), UKM Diving Proklamator dan Deep Andespin West Sumatra saat ini sedang dan masih melakukan penyelamat, serta mengumpulkan sampah dalam laut dan mengutip sampah di sepanjang bibir pantai. Ini sekaligus kado untuk memeriahkan HUT ke-74 Republik Indonesia. 

“Kado maksud kami sebagai evaluasi bagi kita semua termasuk pemerintah, untuk lebih peduli terhadap lingkungan dengan tidak membuang sampah ke laut termasuk upaya mengurangi pemakaian berbahan plastik,” ungkapnya.

Sementara itu, rekannya Indrawadi Mantari menyampaikan, ketika turun ke lapangan atau sedang trip diving, memang acap melakukan agenda pungut sampah. Seperti misalnya, dilakukan para mahasiswa berasal dari Unit Kegiatan Mahasiswa Diving Proklamator (UKM-DP) Universitas Bung Hatta. Pada saat berkegiatan baik itu Latihan Perairan Terbuka (LPT), mendata terumbu karang dan scuba diving bersama beberapa lembaga selalu mengawali agenda dengan memungut sampah di pantai termasuk di bawah laut.

Namun, kali ini sekaitan dengan himbauan Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti kepada masyarakat Indonesia untuk menghadap laut.

“Bu menteri mengajak semua pihak untuk menghadap laut, masyarakat dimintakan berkomitmen menjaga ekosistem laut secara bersama-sama,” ujar Indrawadi.

Sambungnya, dari himbauan itu Kementerian Kelautan dan Perikanan bersama Pandu Laut Nusantara menggelar bersih pantai dan laut, 18 Agustus 2019 yang diselenggaarakan di 74 titik di Indonesia. Sementara di Sumbar dipusatkan di Padang, tepatnya di Pantai Muaro Lasak. Hanya saja, bagi para pegiat lingkungan dan pecinta alam dapat melakukan di daerah ia berada.

“Kami sudah lebih awal melakukannya sebelum tanggal 18 Agustus, ini dikarenakan pertimbangan waktu dan cuaca. Sebab saat ini wilayah Padang dalam keadaan hujan disertai angin kencang dan juga kilat,” tutup Indrawadi. (rilis/natdive)

0 komentar:

Post a Comment

TwitterFacebookGoogle PlusInstagramRSS FeedEmail

Statistic Views

Florikultura Indonesia 2019 dan Pedatani

Ekonomi Bisnis

IKLAN

IKLAN

Terkini

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

FACEBOOK - TWEETER