05 February 2018

Melirik Produk Olahan Cokelat Solok Selatan



SOLSEL, (GemaMedianet.com) Kreativitas kaum hawa dalam meningkatkan perekonomian keluarga patut diacungi  jempol. Pasalnya, kelompok perempuan di nagari Lubuk Malako, Sangir Jujuan, Solok Selatan ini mengolah hasil bumi berupa tanaman kakao menjadi aneka produk makanan dan minuman cokelat tanpa bahan pengawet. Biasanya, buah kakao hanya dijual dengan harga yang relatif murah dikarenakan belum berupa produk olahan.

Sebelum adanya rumah produksi cokelat, kebiasaan masyarakat disana, setelah buah kakao masak lalu dijemur dan dijual pada pengepul. Sekarang, berkat bimbingan lembaga swadaya Walhi Sumbar. Kelompok perempuan, Annisa Karya mengolah buah kakao menjadi produk yang bernilai ekonomis dan mampu membeli kakao dengan harga yang relatif mahal dari harga pengepul. "Tentunya ini menjadi motivasi bagi masyarakat untuk budidaya kakao. Dan berdampak pada peningkatan sektor ekonomi keluarga," ujar Ketua Kelompok Perempuan Annisa Karya, Susi Maryoni, Senin (5/2/2018).

Produk olahan itu menghasilkan lima varian cokelat.  "Setidaknya ada lima macam produk yang kami hasilkan, pertama, serbuk cokelat kemasan yang bisa diseduh berfungsi sebagai obat mag dan diabetes. Kedua, cokelat batangan, ketiga, cokelat murni, keempat, minuman cokelat tri in wan (tiga dalam satu) campuran gula, susu dan serbuk cokelat. Terakhir, produk pisang cokelat. Semua produk kami tanpa bahan pengawet," sebut Susi.

Kelompok yang beranggotakan 60 orang ini, pada umumnya adalah Perempuan yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga. "Alhamdulillah, untuk mesin pengolahan kita dapat bantuan dari Walhi Sumbar. Kelompok ini juga binaan Walhi. Untuk pemasaran produk saat ini masih terbatas ditingkat kabupaten Solsel belum sampai ke luar Solsel apalagi ke luar Sumbar," ungkapnya.

Hal itu dikarenakan, pihkanya masih melakukan proses pengurusan layak konsumsi dari BPOM dan pengurusan sertifikat halal. "Semoga, semua pengurusan ini bisa berjalan lancar sehingga kita bisa pasarkan produk ke luar Solsel. Untuk harga tiap produk juga bervariasi, tergantung produk dan ukuran, mulai dari harga Rp2 ribuan hingga Rp.250 ribu," tambahnya.

Ia berharap, kelompok masyarakat ini mampu bersaing seiring perkembangan teknologi. "Berharap kedepannya, kelompok bisa maju dan menjadi usaha yang bisa menopang ekonomi masyarakat. Sebab, ibu-ibu yang biasanya dirumah saja atau bertani sekarang bisa diberdayakan," katanya.

Sebelumnya, dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat, Walinagari Lubuak Malako, Riono Pendri mengatakan pihaknya melakukan upaya budidaya tanaman kakao yang ditanam ditiap perkebunan masyarakat. "Tidak sekedar budidaya kakao namun juga mengolah kakao menjadi coklat yang siap dikonsumsi dan menjadi khas oleh-oleh dari Lubuk Malako. Saat ini kita lagi pengurusan label BPOM dan sertifikat halal,"katanya.

Menurutnya, dengan adanya beberapa objek wisata alam di sekitar nagari seperti objek gua dan air terjun dimana sebelum sampai lokasi melewati nagari yang dipimpinnya. "Nah, ini merupakan peluang yang cukup menjanjikan bagi masyarkat apabila objek wisata tersebut ramai dikinjungi wisatawan lokal maupun dari luar. Sehingga, produk-produk UMKM yang dihasilkan bisa dijadikan buah tangan pelancong. Kita akan buatkan sentra pusat oleh-olehnya," tambahnya.

Ia meyakini, alternatif untuk meningkatkan usaha masyarakat tersebut akan berdampak dalan waktu yang panjang dan secara otomatis meningkatkan perekonomian masyarakat. "Kita melihat tanam sawit sudah mulai berdampak terhadap pasokan air sehingga perlu terobosan yang berdampak jangka panjang," tuturnya. (Fys)

0 komentar:

Post a Comment

KPU

KPU

SEMSI

SEMSI

Galeri Iklan

TwitterFacebookGoogle PlusInstagramRSS FeedEmail

Statistic Views

Terkini

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

FACEBOOK - TWEETER

Google+ Badge