27 January 2018

Mengenang Jejak Djamaluddin Adinegoro Dalam Sejarah Pers Nasional



PADANG, (GemaMedianet.com) — Nama Djamaluddin Adinegoro tak bisa dilepaskan pada setiap peringatan Hari Pers di negeri ini. Terlebih lagi pada puncak Peringatan Hari Pers Nasional Tahun 2018 yang dipusatkan di Sumatera Barat, Kota pada pada 9 Februari mendatang menjadi momen yang istimewa bagi masyarakat Minangkabau. Bagai Pinang kembali ke tampuknya

Siapakah Adinegoro atau Djamaluddin Adinegoro itu sebenarnya? Yuk! kita telusuri. 

Djamaluddin Adinegoro, terkadang dieja Adi Negoro (lahir di Talawi, Sawahlunto, Sumatera Barat, 14 Agustus 1904 – meninggal di Jakarta, 8 Januari 1967 pada umur 62 tahun) adalah sastrawan Indonesia dan wartawan kawakan. Ia berpendidikan STOVIA (1918-1925) dan pernah memperdalam pengetahuan mengenai jurnalistik, geografi, kartografi, dan geopolitik di Jerman dan Belanda (1926-1930).

Nama aslinya sebenarnya bukan Adinegoro, melainkan Djamaluddin gelar Datuk Maradjo Sutan. Ia adalah adik sastrawan Muhammad Yamin. Mereka saudara satu bapak, tetapi lain ibu. Ayah Adinegoro bernama Usman gelar Baginda Chatib dan ibunya bernama Sadarijah, sedangkan nama ibu Muhammad Yamin adalah Rohimah. Ia memiliki seorang istri bernama Alidas yang berasal dari Sulit Air, X Koto Diatas, Solok, Sumatera Barat.
Pada masa mudanya Adinegoro terpaksa memakai nama samaran karena ketika bersekolah di STOVIA ia tidak diperbolehkan menulis. Padahal, pada saat itu keinginannya menulis sangat tinggi. Maka digunakan nama samaran Adinegoro tersebut sebagai identitasnya yang baru. Ia pun bisa menyalurkan keinginannya untuk mempublikasikan tulisannya tanpa diketahui orang bahwa Adinegoro itu adalah Djamaluddin gelar Datuk Madjo. Oleh karena itulah, nama Adinegoro sebagai sastrawan lebih terkenal daripada nama aslinya, Djamaluddin.

Adinegoro sempat mengenyam pendidikan selama empat tahun di Berlin, Jerman. Ia mendalami masalah jurnalistik di sana. Selain itu, ia juga mempelajari kartografi, geografi, politik, dan geopolitik. Tentu saja pengalaman belajar di Jerman itu sangat banyak menambah pengetahuan dan wawasannya, terutama di bidang jurnalistik. Adinegoro, memang, lebih dikenal sebagai wartawan daripada sastrawan.

Ia memulai kariernya sebagai wartawan di majalah Caya Hindia, sebagai pembantu tetap. Setiap minggu ia menulis artikel tentang masalah luar negeri di majalah tersebut. Ketika belajar di luar negeri (1926—1930), ia nyambi menjadi wartawan bebas pada surat kabar Pewarta Deli (Medan), Bintang Timur, dan Panji Pustaka (Batavia).

Setelah kembali ke tanah air, Adinegoro memimpin majalah Panji Pustaka pada tahun 1931. Akan tetapi, ia tidak bertahan lama di sana, hanya enam bulan. Sesudah itu, ia memimpin surat kabar Pewarta Deli di Medan (1932—1942). Ia juga pernah memimpin Sumatra Shimbun selama dua tahun. Kemudian, bersama Prof. Dr. Supomo, ia memimpin majalah Mimbar Indonesia (1948—1950). Selanjutnya, ia memimpin Yayasan Pers Biro Indonesia (1951). Terakhir, ia bekerja di Kantor Berita Nasional (kemudian menjadi LKBN Antara).

Pada 25 Agustus 1932 Adinegoro menikah dengan Alidar binti Djamal, seorang wanita dari Sulit Air, Solok, Sumatera Barat, temannya dari STOVIA. Mereka dikaruniai lima anak.

Selama masa kolonialisme Belanda dan kemudian Jepang, meskipun hidup kekurangan, Adinegoro memiliki komitmen tinggi sebagai wartawan dan sastrawan. Ia juga berhasil menyelesaikan dua novel: Darah Muda dan Asmara Jaya.

Dalam sebuah editorial Pewarta Deli, Adinegoro pernah mengungkapkan pemikirannya tentang kolonialisme, perjuangan untuk kemerdekaan, nasionalisme dan pendidikan. Tulisannya tajam dan elegan. Karena kehebatannya dalam memilih kata-kata, Adinegoro berhasil lolos dari perangkap hukum yang dibuat pemerintah kolonial Belanda di Persbreidel-Ordonantie. Adinegoro selalu diawasi karena aktivitasnya dalam mendukung gerakan nasionalis.

Selama pendudukan Jepang, Adinegoro memimpin harian Sumatera Shimbun. Lalu ia ditugaskan sebagai Kepala Departemen Umum Chuo Sangi Sumatera Kai, dan Adinegoro pindah ke Bukittinggi. Setelah proklamasi kemerdekaan, Adinegoro ditugaskan sebagai kepala Komite Nasional Sumatera. Dia mendorong orang-orang Sumatera untuk melaksanakan perintah Presiden: mengambil alih pemerintahan dari Jepang dan menyatakan proklamasi kemerdekaan bersama pemimpin lokal.

Setelah kemerdekaan, Adinegoro menjalankan koran Kedaoelatan Rakyat. Ia juga mendirikan layanan Newswire Antara cabang Sumatera. Kemudian, bersama Prof Dr Supomo, ia memimpin majalah Mimbar Indonesia (1948-1950).

Adinegoro berkesempatan meliput KMB, Den Hag, pada 1949. Ia juga mendirikan penerbitan Djambatan sebagai penghubung dua pihak yang berseteru, Indonesia dan Belanda, dengan membuka saling pengertian melalui buku.

Pada 1951 Adinegoro memimpin Aneta. Pada 1956 Adinegoro menasionalisasikannya dengan mengubah namanya menjadi Persbiro Indonesia. Masa itu Adinegoro ikut melawat ke Moskow bersama rombongan Presiden Soekarno, dan meliput sidang PBB soal Irian Barat di Amerika 1957.

Pada 1963, ketika Persbiro Indonesia digabungkan dengan Antara, Adinegoro diberi posisi sebagai dewan pengawas dan anggota dewan pemimpin.

Ajip Rosidi dalam buku Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia (1982) mengatakan bahwa Adinegoro merupakan pengarang Indonesia yang berani melangkah lebih jauh menentang adat kuno yang berlaku dalam perkawinan. Dalam kedua romannya, Darah Muda dan Asmara Djaja, Adinegoro bukan hanya menentang adat kuno tersebut, melainkan juga dengan berani memenangkan pihak kaum muda yang menentang adat kuno itu (yang dijalankan oleh pihak kaum tua).

Di samping Darah Muda dan Asmara Djaja, karya Adinegoro lainnya, Melawat ke Barat, kerap dianggap memiliki kualitas sastra. Isinya berupa kisah perjalanan Adinegoro ke Eropa, yang sebelumnya telah terbit sebagai laporan jurnalistik Perjalanan ke Barat pada 1930.

Adinegoro juga terlibat dalam Polemik Kebudayaan yang terjadi pada 1935. Esainya, yang merupakan tanggapan polemik waktu itu, berjudul Kritik atas Kritik terhimpun dalam Polemik Kebudayaan yang dieditori Achdiat Karta Mihardja (1977).

Dalam esainya itu. Adinegoro beranggapan bahwa suatu kultur tidak dapat dipindah-pindahkan karena pada tiap bangsa telah melekat tabiat dan pembawaan khas yang tak dapat ditiru orang lain. Adinegoro memberikan perbandingan yang menyatakan bahwa suatu pohon rambutan tidak akan menghasilkan buah mangga, demikian sebaliknya

Karya-karyanya :

Dua buah novel Adinegoro yang terkenal (keduanya dibuat pada tahun 1928), yang membuat namanya sejajar dengan nama-nama novelis besar Indonesia lainnya, adalah Asmara Jaya dan Darah Muda. Ajip Rosidi dalam buku Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia (1982), mengatakan bahwa Adinegoro merupakan pengarang Indonesia yang berani melangkah lebih jauh menentang adat kuno yang berlaku dalam perkawinan. Dalam kedua romannya Adinegoro bukan hanya menentang adat kuno tersebut, melainkan juga dengan berani memenangkan pihak kaum muda yang menentang adat kuno itu yang dijalankan oleh pihak kaum tua.

Di samping kedua novel itu, Adinegoro juga menulis novel lainnya, yaitu Melawat ke Barat, yang merupakan kisah perjalanannya ke Eropa. Kisah perjalanan ini diterbitkan pada tahun 1930.

Selain itu, ia juga terlibat dalam polemik kebudayaan yang terjadi sekitar tahun 1935. Esainya, yang merupakan tanggapan polemik waktu itu, berjudul “Kritik atas Kritik” terhimpun dalam Polemik Kebudayaan yang disunting oleh Achdiat K. Mihardja (1977). Dalam esainya itu, Adinegoro beranggapan bahwa suatu kultur tidak dapat dipindah-pindahkan karena pada tiap bangsa telah melekat tabiat dan pembawaan khas, yang tak dapat ditiru oleh orang lain.

Ia memberikan perbandingan yang menyatakan bahwa suatu pohon rambutan tidak akan menghasilkan buah mangga, dan demikian pun sebaliknya.

Pada tahun 1950, atas ajakan koleganya Mattheus van Randwijk, Adinegoro membuat atlas pertama berbahasa Indonesia. Atlas tersebut dibuat dari Amsterdam, Belanda bersama Adam Bachtiar dan Sutopo. Dari mereka bertiga, terbitlah buku Atlas Semesta Dunia pada tahun 1952. Inilah atlas pertama yang diterbitkan dalam bahasa Indonesia sejak Indonesia merdeka. Pada tahun yang sama setelah atlas itu muncul, mereka juga menerbitkan Atlas Semesta Dunia untuk Sekolah Landjutan

Pada tahun 1954, ia menerbitkan ensiklopedia pertama dalam bahasa Indonesia, Ensiklopedi Umum Dalam Bahasa Indonesia.

Dedikasinya :

Bersama beberapa wartawan Indonesia, Adinegoro melawat ke Nederland untuk meliput Konferensi Meja Bundar (KMB). Tahun 1949 ia kembali ke Nederland untuk membuat atlas dunia. Inilah atlas pertama dalam bahasa Indonesia yang kemudian diterbitkan oleh Penerbit Djambatan. Dua tahun lamanya dia berada di negeri Belanda untuk menyelesaikan tugasnya itu.

Bersama tokoh-tokoh masyarakat lainnya, Adinegoro mendirikan Perguruan Tinggi Jurnalistik di Jakarta yang berkembang menjadi IISIP (Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Publisistik). Adinegoro pula yang mengambil prakarsa (bersama PWI Cabang Bandung) mendirikan Fakultas Publisistik dan Jurnalistik Universitas Padjadjaran Bandung. Beberapa waktu sebelum Adinegoro meninggal dunia, universitas tersebut menganugerahkan gelar Doktor H.C., dalam ilmu publisistik.

Bung Karno pernah menawari jabatan duta besar, tetapi Adinegoro menolaknya. Ia sempat menjadi anggota Dewan Perancang Nasional (Depernas) dan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS).

Pada akhir hayatnya, Adinegoro bekerja di kantor berita Antara setelah cukup lama bekerja di kantor berita PIA. Djamaluddin Adinegoro, yang pada tahun 1972 dianugerahi penghargaan sebagai Perintis Pers, meninggal dunia pada hari Minggu, 8 Januari 1968 dalam usia 64 tahun. Ia dimakamkan  di Pekuburan Karet. Pada batu nisannya tertulis, “Djamaluddin Adinegoro Gelar Datuk Maradjo Sutan”.

Sejak tahun 1974 PWI Jaya mengabadikan namanya untuk menamai penghargaan bagi karya jurnalistik terbaik yang diselenggarakan setiap tahun. Pada awalnya penghargaan tersebut diberi nama "Hadiah Adinegoro", tetapi diubah menjadi Anugerah Adinegoro.

Setelah kurang lebih 20 tahun menjadi program PWI Jaya, sejak tahun 1994 Anugerah Adinegoro dialihkan menjadi program PWI Pusat, atas kesepakatan antara PWI Pusat, Yayasan Adinegoro dan PWI Jaya. (gigiharis.wordpress.com/em)

0 komentar:

Post a Comment

SEMSI

SEMSI

Galeri Iklan

TwitterFacebookGoogle PlusInstagramRSS FeedEmail

Statistic Views

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

Terkini

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

FACEBOOK - TWEETER

Google+ Badge