Selasa, 13 Juni 2017

Dalam Dera Kemiskinan, Laura Selalu Juara Kelas


Laporan : Jefli (Wartawan Haluan)

Rasa rindu Restuti Laura (9) seketika berubah menjadi benci terhadap Ayahnya. Ia ditinggal oleh ayahnya semenjak usia 1,5 tahun, pergi mempersunting wanita lain setelah ibunya. Sejak ditinggal Ayah hingga masuk jenjang Sekolah Dasar (SD), Restuti tidak pernah lagi jumpa dengan ayah kandungnya kecuali hanya terkadang berkabar melalui telefon. Biaya sekolahnya pun jarang dikirim ayahnya.

"Ia pernah dijanjikan oleh ayahnya uang Rp.100 ribu apabila mendapat juara di sekolah. Tapi, setelah ia meraih juara berturut-turut sejak kelas satu, janji itu tidak pernah ditepati ayahnya. Akhirnya, hingga saat ini apabila ada telefon dari ayahnya, ia tak mau lagi bicara dengannya. Ia benci pada ayahnya," diceritakan Ibunya, Samsimar (46) pada Haluan, Senin (12/6/2017).

Kepergian ayahnya tanpa ada sebab yang jelas, katanya pergi begitu saja tanpa pamit. "Kemudian terdengar saja kabar kalau sudah beristri lagi di daerah Pasaman," tambahnya.

Sekarang, usianya sudah sembilan tahun dan duduk dibangku kelas II SDN 13 Tanjung Nan Ampek, Nagari Pakan Rabaa Timur, Kecamatan Koto Parik Gadang Diateh (KPGD) Solok Selatan (Solsel). Bocah malang ini merupakan bungsu dari lima bersaudara. Dimana, tiga orang masih dalam tanggungan Samsimar dan dua saudaranya sudah berkeluarga.

Tinggal dipinggiran dengan kondisi rumah papan berukuran sekitar 9x9 meter. Tepatnya di Jorong Pasia Panjang, Pakan Rabaa Timur, KPGD bersama Ibu dan dua orang saudaranya. Namun, tidak menyurutkan semangat dan prestasi belajarnya disekolah. Gadis malang ini selalu juara di kelasnya. "Uti ibo jo Amak Uti mah uda, uti nio bisa manyanangan amak. Susah amak bakarajo mancari pitih uda,"keluhnya murung.

Tidak muluk-muluk cita-citanya, kelak besar Restuti ingin membahagiakan ibunya. Tak ingin melihat ibunya bercucur keringat mengambil upah disawah orang. "Kalau lah gadang bisuak, Uti nio jadi urang nan berhasil dan membahagiakan Ibu jo kakak," ucapnya lirih.

Apabila musim kesawah (bertanam padi) datang, kata, Samsimar maka sehari Samsimar bisa menghasilkan 3 sukat/gantang beras dari hasil mengambil upah dengan bekerja disawah orang. Namun, jika tidak musim bertanam, hanya satu kali seminggu mengambil upah ke sawah. "Untuk mencukupi kebutuhan anak-anak kadang juga membersihkan ladang orang. Terutama saat tidak musim tanam padi," katanya.

Sementara, kondisi ekonomi dua orang anaknya yang sudah berkeluarga juga hanya pas-pasan. "Jangankan untuk membantu adiknya, tercukupi saja kebutuhan keluarganya saja itu sudah membantu saya," tandas Samsimar.

Dari tiga anaknya, satu bersekolah SMP dan satu Restuti Laura yang duduk di bangku SD. "Satu lagi putus sekolah, hanya sampai SMP karena tuntutan biaya hidup juga yang menjadi kendala saya," ucapnya.

Menurutnya, untuk bantuan beasiswa dari pemerintah,  Restuti Laura pernah mendapatkan satu kali dengan besaran Rp.450 ribu. "Uang itu dimanfaatkan untuk kebutuhan sekolahnya. Seperti beli buku, sepatu dan pakaian seragam sekolah," lanjutnya.

Sementara, Kapolres Solsel, AKBP M.Nurdin yang prihatin dengan kondisi ekonomi keluarganya ikut memberikan bantuan pada bocah malang itu. "Segala kebutuhan belajar dan sekolah biar saya yang urus. Sekarang, pikirkan untuk belajar yang baik dan rajin saja ya. Apapun kebutuhan sekolah nanti saya kasih," pesannya pada Restuti.

Naluri kemanusiaan M.Nurdin meletup. Simpati dan empatinya menyatu untuk membantu meringankan beban Samsimar. "Sekarang Ibu tak usah pikirkan biaya sekolahnya. Yang penting awasi kegiatan belajarnya. Apapun kebutuhan nya nanti bilang sama Babinmas ya. Semoga kelak ia menjadi anak yang berguna bagi  Agama, Nusa dan bangsa kita ini," tutupnya. Semoga.**

Terbit HALUAN Edisi 13 Juni 2017

0 komentar:

Posting Komentar

SEMSI

SEMSI

Galeri Iklan

Statistic Views

Terkini

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

IKLAN

FACEBOOK - TWEETER

Google+ Badge

** Group Media Sumbar **